Harmonisasi Ilmu Pranatamangsa dengan Sistim Informasi Pertanian
Devi Nurulfahmi – 522016021
Pranatamangsa? Pasti sudah tidak asing lagi
dong dengan kata tersebut.
Pranatamangsa berasal dari bahasa jawa
yaitu pranata yang artinya tatacara atau prosedur, sedangkan mangsa berarti
musim. Jadi pranatamangsa dapat diartikan sebagai tatacara atau prosedur dalam
melakukan kegiatan pertanian ataupun sebagai nelayan berdasarkan musim.
Penggunaan pranatamangsa ini merupakan salah satu wujud kedekatan antara
masyarakat dengan alam. Penanggalan pranatamangsa ini berbasis peredaran matahari
dan siklusnya (setahun) berumur 365 hari (atau 366 hari) serta memuat berbagai
aspek fenologi dan gejala alam lainnya yang dimanfaatkan sebagai pedoman dalam
kegiatan usaha tani.
Sistim kalender tanam Pranatamangsa ini
digunakan oleh masyarakat di Jawa, Bali dan Sunda. Mereka menggunakan
penanggalan tersebut untuk melakukan kegiatan pertanian (bercocok tanam) maupun
digunakan oleh nelayan untuk menangkap ikan dengan melihat musim dan cuaca.
Penggunaan pranatamangsa untuk sekarang ini
sudah jarang digunakan, karena penanggalan pranatamangsa ini memiliki
kekurangan yaitu waktu tanam yang selalu berubah hal ini disebabkan karena
musim penghujan yang selalu mundur dari yang seharusnya sudah turun hujan. Penggunaan
pranatamangsa lebih banyak digunakan oleh petani yang ada di desa atau di
daerah pedalaman yang usianya sudah tua. Banyak juga digunakan oleh sebagian
banyak orang yang gaptek atau gagap teknologi sehingga tidak dapat
menyerap informasi yang lebih canggih lagi. Pada jaman seperti sekarang ini
sudah banyak teknologi baru khususnya dibidang pertanian yang digunakan untuk
mengetahui musim atau cuaca sampai dengan teknologi yang dapat membantu petani
untuk memperoleh informasi dibidang pertanian dengan mudah dan teknologi yang
dapat meningkatkan produksi pertanian. Selain dengan berpedoman dengan sistim
penanggalan pranatamangsa, petani juga perlu memperhatikan prakiraan yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan
Geofisika (BMKG) dan memanfaatkan teknologi yang sudah ada sekarang ini.
Dibidang pertanian sendiri telah
dikembangkan Sekolah Lapang Iklim (SLI) yang digunakan untuk meningkatkan
kemampuan petani untuk memahami berbagai aspek prakiraan cuaca dan hubungannya
dengan usahatani yang dijalankan. Kegiatan
SLI dimaksudkan untuk membuat petani mampu "menerjemahkan" informasi
prakiraan cuaca yang sering kali sangat teknis, sekaligus membuat petani mampu
mengadaptasikannya dengan kearifan lokal yang telah lama dimiliki. Dalam kaitan
dengan SLI, pranata mangsa menjadi rujukan untuk berbagai gejala alam yang
diperkirakan muncul sebagai tanggapan atas kondisi cuaca/perubahan iklim.
Pranata mangsa masih tetap dapat diandalkan dalam kaitan dengan pengamatan atas
gejala alam.








0 komentar:
Posting Komentar